Profit Investasi Syariah Perlukah Dikeluarkan Zakatnya?
Profit Investasi Syariah Perlukah Dikeluarkan Zakatnya?

Profit Investasi Syariah Perlukah Dikeluarkan Zakatnya?

Deposit.redaksinet.com – Di era milenial seperti saat ini, tampaknya investasi adalah hal yang wajib dilakukan. Karena investasi menjanjikan keuntungan yang layak untuk masa depan. Bisa dibilang, hasil investasi bisa digunakan untuk urusan darurat, begitu juga dengan passive income dan dana pensiun nantinya.

Meskipun demikian, ternyata tidak semua orang nyaman dengan masalah investasi, terutama seorang muslim. Mereka akan sering mempertanyakan hukum dan zakatnya. Jika Anda seorang muslim, Anda tidak perlu khawatir lagi karena sekarang ada jenis Investasi Syariah.

Sekilas Konsep Investasi Syariah

Sebagai seorang muslim, tentu saja, Anda ingin memiliki investasi halal, dong. Nah, salah satu solusinya adalah mulai berinvestasi di Syariah. Bagaimana itu?

Investasi ini merupakan jenis investasi yang berpedoman pada nilai-nilai Islam dan tidak melanggar ajaran Islam. Pada dasarnya, segala sesuatu yang melanggar ajaran dan hukum agama tidak akan digunakan sebagai sumber keuntungan.

Berbeda dengan jenis investasi konvensional, Investasi Syariah ini diawasi oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) di mana Dewan Syariah Nasional dan Dewan Pengawas Syariah dibentuk. Konsep Investasi Syariah sendiri lebih menekankan pada rasio atau distribusi hasil. Jadi, yang mendapatkan hasilnya adalah nasabah dan bank dengan nilai yang sama.

1. Reksa Dana Syariah

Reksa dana adalah jenis investasi di mana Anda menyetor sejumlah dana ke Manajer Investasi untuk kemudian berinvestasi di beberapa sekuritas, seperti obligasi, saham, dan instrumen pasar keuangan lainnya.

Nah, untuk reksa dana syariah, konsepnya juga sama dengan yang konvensional, namun mengikuti prinsip syariah. Prinsip tersebut telah tertuang dalam Peraturan OJK tentang Penerapan Prinsip Syariah di Pasar Modal.

Memulai investasi ini mudah. Anda hanya perlu mengunduh aplikasi reksa dana, lalu mengisi data yang dibutuhkan. Untuk modal awal, Anda hanya perlu menyetor dana mulai dari Rp100.000.

2. Saham Syariah

Banyak orang berpikir bahwa saham adalah jenis investasi yang membawa banyak keuntungan. Karena itu, banyak juga yang berbondong-bondong berinvestasi di saham.

Perbedaan mendasar dari Saham Biasa dan Syariah adalah bahwa tidak ada bunga, serta berprinsip pada nilai-nilai Syariah. Namun untuk profit tetap sama, yaitu High Risk High Return.

Saham syariah yang memenuhi kriteria Peraturan OJK no. – 325. – POJK.04/2017 tentang kriteria dan penerbitan daftar Efek Syariah, dan Saham syariah dicatatkan sebagai saham syariah oleh Emiten atau Perusahaan Publik Syariah sesuai dengan Peraturan OJK No. 17-POJK.04/2015.

3. Syariah Emas

Jenis Investasi Syariah lain yang tidak kalah menguntungkan adalah emas. Seperti kita ketahui, harga emas sendiri setiap tahunnya cenderung naik. Terlebih lagi, produk investasi ini juga sangat direkomendasikan untuk pemula. Cara memulai investasi itu mudah.

Anda hanya perlu pergi ke Pegadaian, toko emas resmi, Bank Syariah atau tempat lain, lalu tentukan berapa banyak emas yang ingin Anda investasikan.

Manfaat Investasi Syariah

Seperti yang sudah kita ketahui, Sistem investasi keuntungan / konsep perbankan syariah tentu tidak memiliki riba (bunga). Jadi, dari mana keuntungan itu berasal? Nah, laba dihitung dengan sistem bagi hasil, dengan mekanisme sebagai berikut:

  • Bagi hasil, yang merupakan total pendapatan yang belum dipotong biaya dan komisi dari sistem perbankan.
  • Bagi Hasil Kotor. Jenis bagi hasil ini dihitung berdasarkan pendapatan dikurangi harga pokok penjualan. Namun, ini tidak mengurangi biaya operasi, pajak, pemasaran, administrasi dan biata lainnya. Bisa dibilang, ini adalah laba kotor.
  • Nah, ketentuan pembagian hasil ini biasanya akan dijelaskan pada awal penandatanganan kontrak. Jadi, Anda sebagai customer tidak perlu khawatir jika terjadi fraud, karena semuanya sudah dibahas sebelum kontrak / perjanjian terjadi.

1. Mempromosikan Prinsip Halal

Sebagai seorang muslim, tentunya anda ingin berinvestasi yang membawa manfaat dunia dan akhirat, bukan? Oleh karena itu, investasi ini sangat cocok untuk anda. Terlebih lagi, hasil yang anda dapatkan akan membawa berkah.

2. Hindari Riba

Seperti dijelaskan di atas, sistem keuntungan terdistribusi tidak berasal dari riba atau bunga. Hukum Islam sendiri telah menjelaskan bahwa riba adalah salah satu hal yang dilarang (haram). Jadi, Anda tidak perlu khawatir karena investasi Islam tidak memiliki praktek tulang rusuk nya.

3. Aman Dan Bebas Penipuan

Dalam praktik Investasi Syariah, anda akan mengetahui setiap prosedur yang dilakukan.

4. Mempromosikan Kegiatan Sosial

Investasi syariah dinilai menjadi pendorong untuk meningkatkan kualitas perekonomian karena investasi ini juga memberikan manfaat bagi orang lain. Salah satunya melalui kegiatan sosial yang dilakukan. Nah, bukankah manfaat yang anda dapatkan akan berlipat ganda?

1. Hasil / Laba Tidak Pasti

Hal pertama yang kita pikirkan dari melakukan investasi pasti keuntungannya. Sama seperti investasi konvensional, keuntungan yang dihasilkan tidak selalu memuaskan karena semuanya tergantung pada pasar dan kondisi ekonomi secara umum.

2. Kehilangan Modal

Masih terkait dengan poin pertama, jika pasar dan kondisi ekonomi tidak stabil, Anda bisa terancam kehilangan modal. Sama seperti realisasi investasi pada umumnya, ada kalanya Anda akan untung, tetapi mungkin saja, anda juga akan rugi.

3. Sulit Menjual Kembali Produk Investasi

Kesulitan menjual produk ini biasanya didasarkan pada fakta bahwa investor tidak mengerti tentang produk yang mereka beli dan dampaknya di masa depan.

Investasi Syariah dan perhitungan zakat

1. Pendapatan Zakat

Zakat yang dikeluarkan mengacu pada penghasilan rutin atau penghasilan setiap bulan. Nilai minimum properti yang akan dikeluarkan adalah sekitar 2,5 persen dari pendapatan yang dimiliki.

2. Zakat emas dan perak

Emas, perak atau logam mulia lainnya dapat dikeluarkan zakat jika telah mencapai batas minimum dan telah dilaksanakan selama 1 tahun. Untuk zakat emas, batas minimal zakat adalah 85 gram. Sedangkan untuk perak, batas minimumnya sekitar 595 gram. Zakat yang harus dibayarkan dari dua logam mulia ini adalah sama, yaitu 2,5 persen dari aset yang dimiliki.

3. Perusahaan Zakat

Jenis Zakat ini dianggap seperti zakat perdagangan, karena perusahaan memiliki sistem ekonomi yang sama dengan perdagangan. Oleh karena itu, batas minimum pembayaran dan perhitungan zakat perusahaan setara dengan 85 gram emas.

Juga, perusahaan biasanya memiliki aset yang bermanifestasi dalam tiga bentuk: aset dalam bentuk barang (sarana dan prasarana atau komoditas perdagangan), uang tunai (biasanya disimpan di bank), dan piutang. Ketiganya juga harus mengeluarkan zakat dengan perhitungan berdasarkan laporan. Total zakat yang dikeluarkan adalah 2,5 persen.

Leave a Reply

Your email address will not be published.